Kamis, 27 September 2012

FUNGSI AGAMA BAGI KEHIDUPAN


FUNGSI AGAMA BAGI KEHIDUPAN


akbid kh warna



Disusun oleh:
1.      Retna Anggar Udawati
2.      Roro Eka Cepta Ningsih
3.      Siska Bhakti Anggraini
4.      Rosalia Oktaviani Akusna
5.      Poerwi Saharti

STIKES KARYA HUSADA KEDIRI PRODI DIII KEBIDANAN
Jl. Soekarno – Hatta Po. Box 183 Telp. (0354) 391866 Fax. 393888
KEDIRI

KATA PENGANTAR

Segala puja dan puji bagi Allah SWT, zat penguasa seluruh alam jagat raya. Teriring pula sholawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada Rasululloh SAW. Amien....
Sebagai wujud ikhtiar untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan mahasiswi di STIKES KARYA HUSADA KEDIRI.
Kami menyusun makalah ini berdasarkan fakta yang kami dapat dari berbagai sumber-sumber dan literatur-literatur yang dijamin kebenarannya. Kami berterimakasih kepada semua pihak yang ikut membantu untuk terselesainya makalah ini.
Kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan sarandiharapkan untuk kesempurnaan makalah ini.
            Semoga kehadiran makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua dalam menjalankan aktivitas belajar.


Kediri, 24 September 2012
Penyusun    


DIII KEBIDANAN


DAFTAR ISI

Halaman Cover..........................................................................................................................
Kata Pengantar...................................................................................................................i
Daftar isi...................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
            Latar belakang..............................................................................................1
            Rumusan masalah.........................................................................................1
            Tujuan Pembelajaran....................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
            Pengertian Agama........................................................................................3
            Agama dan Masyarakat................................................................................4
            Fungsi Agama Bagi Kehidupan...................................................................5
            Peran Agama Pada Era Moderen ................................................................7
BAB III PENUTUP
            Kesimpulan.................................................................................................9
Saran............................................................................................................9

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................11


 
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kata “agama” mencakup seluruh agama, baik agama langit maupun agama bumi, agama murni (Islam) atau agama yang telah mengalami distorsi. Menurut hemat kami, , hanya agama Islamlah yang bisa memberikan fungsi-fungsi positif pada setiap zaman dan seluruh generasi manusia, karena Islam adalah agama penutup dan paling sempurnanya agama Ilahi.
Dari dimensi inilah, Islam mesti mencanangkan teori-teori, program-program, dan petunjuk-petunjuk universal untuk setiap zaman dan setiap dimensi kehidupan manusia yang bersifat individual dan sosial. Di sisi lain, agama, ilmu, dan teknologi memiliki fungsi masing-masing. Program-program dan hukum-hukum agama akan semakin berkembang dan luas sejalan dengan perkembangan teknologi melalui ijtihad dari sumber-sumber fikih Islam, dengan demikian masalah-masalah baru dalam wilayah hukum Islam akan mendapatkan solusinya.
Agama Islam memiliki tiga program untuk manusia dalam wilayah hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan yang lain (masyarakat dan alam), dan hubungan manusia dengan Tuhan. Dan Islam juga menawarkan dan memberikan solusi dalam kebutuhan-kebutuhan ruhani dan spiritual manusia melalui jalan keteladanan Ahlulbait Rasulullah Saw yang biasa disebut dengan nama ijtihad.

1.2  Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari agama?
2. Apa hubungan antara agama dengan masyarakat?
3. Apa fungsi agama dalam kehidupan?
4. Apa peran agama di era modern?


1.3  Tujuan Pembelajaran
Dengan adanya makalah ini penulis bertujuan untuk menambah wawasan bagi mahasiswa agar sebagai calon tenaga pendidikan khusus pendidikan agama islam menjadi pendidikan yang sesuai dengan apa yang kita harapkan yaitu pendidikan yang profesional selesai dengan bidangnya.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Agama
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
Kata "agama" berasal dari bahasa Sanskerta, āgama yang berarti "tradisi". Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.
Berikut ini beberapa pengertian sosiologi agama menurut para ahli:
·         Drs. D. Hendropuspito, O.C dalam bukunya "Sosiologi Agama" menerangkan bahwa sosiologi agama adalah suatu cabang sosiologi umum yang mempelajari masyarakat agama secara sosiologis guna mencapai keterangan-keterangan ilmiah dan pasti demi kepentingan masyarakat agama itu sendiri dan masyarakat luas pada umumnya.
·         Dr. W. Goddijn: sosiologi agama adalah bagian dari sosiologi umum (versi barat) yang mempelajarii suatu ilmu budaya empiris, profan dan positif yang menuju kepada pengetahuan umum, yang jernih dan pasti dari struktur, fungsi-fungsi dan perubahan-perubahan kelompok keagamaan dan gejala-gejala kekelompokan keagamaan.
·         Sosiologi agama mempelajari peran agama di dalam masyarakat; praktik, latar sejarah, perkembangan dan tema universal suatu agama di dalam masyarakat (wiki)

Pendapat lain:
·         Sosiologi agama adalah ilmu yang membahas tentang hubungan antara berbagai kesatuan masyarakat, perbedaan atau masyarakat secara utuh dengan berbagai system agama, tingkat dan jenis spesialisasi berbagai peranan agama dalam berbagai masyarakat dan system keagamaan yang berbeda.
·         Sosiologi agama adalah studi tentang fenomena social, dan memandang agama sebagai fenomena social. Sosiologi agama selalu berusaha untuk menemukan pinsip-prinsip umum mengenai hubungan agama dengan masyarakat.
·         Sosiologi agama adalah suatu cabang sosiologi umum yang mempelajari masyarakat agama secara sosiologis guna mencapai keterangan-keterangan ilmiah dan pasti, demi kepentingan masyarakat agama itu sendiri dan masyarakat luas pada umumnya.
2.2  Agama dan Masyarakat
Agama dalam masyarakat ada tiga aspek penting yang selalu dipelajari, yaitu kebudayaan, sistem sosial, dan kepribadian.
Teori fungsional dalam melihat kebudayaan pengertiannya adalah, bahwa kebudayaan itu berwujud suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sistem sosial yang terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan yang lain, setiap saat mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat tata kelakuan, bersifat kongkret terjadi di sekeliling.
Agama dalam pengukuhan nilai-nilai, bersumber pada kerangka acuan yang bersifat sakral, maka normanya pun dikukuhkan dengan sanksi-sanksi sakral. Dalam setiap masyarakat sanksi sakral mempunyai kekuatan memaksa istimewa, karena ganjaran dan hukumannya bersifat duniawi dan supramanusiawi dan ukhrowi.
Agama di bidang sosial adalah fungsi penentu, di mana agama menciptakan suatu ikatan bersama, baik di antara anggota-anggota beberapa mayarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu mempersatukanmereka.
gama sebagai sosialisasi individu ialah individu, pada saat dia tumbuh menjadi dewasa, memerlukan suatu sistem nilai sebagai semacam tuntunan umum untuk (mengarahkan) aktivitasnya dalam masyarakat, dan berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangan kepribadiannya. Orang tua di mana pun tidak mengabaikan upaya “moralisasi” anak-anaknya, seperti pendidikan agama mengajarkan bahwa hidup adalah untuk memperoleh keselamatan sebagai tujuan utamanya. Oleh sebab itu, untuk mencapai tujuan tersebut harus beribadat dengan kontinyu dan teratur, membaca kitab suci dan berdoa setiap hari, menghormati dan mencintai orang tua, bekerja keras, hidup secara sederhana, menahan diri dari tingkah laku yang tidak jujur, tidak berbuat yang senonoh dan mengacau, tidak minum-minuman keras, tidak mengkonsumsi obat-obatan terlarang, dan tidak berjudi. Maka perkembangan sosialnya terarah secara pasti serta konsisten dengan suara hatinya.

2.3  Fungsi Agama Islam Bagi Kehidupan
Secara fundamental terdapat perbedaan yang tajam antara ilmu, teknologi, dan agama dalam wilayah fungsionalnya. Kebutuhan mutlak, penting, dan urgen manusia terhadap agama disebabkan adanya perkara-perkara yang tidak dapat atau mustahil dicapai oleh manusia melalui akal, indera lahiriah, dan pengalaman hidupnya. Keterbatasan alat epistemologi dan pengetahuan manusia ini juga diakui dan ditegaskan oleh akal manusia sendiri dan kitab suci al-Quran pun secara langsung dan jelas mengungkapkan kenyataan ini, “Dia mengajarkan kepada Kalian apa-apa yang tidak dapat Kalian ketahui.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 239).
Fakta ini menetapkan bahwa manusia mustahil mencapai dan mengetahui sesuatu yang akan menjamin kebutuhan hakiki ruhaninya sedemikian sehingga menyebabkannya tidak lagi perlu dan butuh kepada agama Ilahi (Islam).
Agama Islam memiliki tiga program dan fungsi yang mewakili tiga bentuk hubungan manusia, antara lain:
1.      Hubungan manusia dengan dirinya sendiri;
2.      Hubungan manusia dengan yang lain (masyarakat dan alam);
3.      Hubungan manusia dengan Tuhannya.
Dengan melihat solusi Islam pada ketiga pola hubungan manusia tersebut, maka dapat dikatakan bahwa Islam memperhatikan dan membangun dimensi-dimensi duniawi dan ukhrawi manusia, jasmani dan ruhaninya, dan lahir dan batinnya, serta hati dan akalnya. Solusi Islam yang sangat luas ini tidak dapat diharapkan dan diemban oleh ajaran-ajaran yang murni buatan manusia, karena ilmu dan pengetahuan yang dihasilkan oleh manusia itu sendiri hingga sekarang ini belum dapat mengklaim telah mengenal dimensi-dimensi eksistensi manusia secara komprehensif dan terperinci sehingga dapat menjamin, merancang, dan mengontruksi secara lengkap program-program untuk kebahagiaan kehidupan dunia dan akhirat manusia.  Meski ilmu, pengetahuan, dan teknologi modern telah memberikan manfaat bagi manusia, namun manfaat dan fungsi ini hanyalah sebatas memberikan efektifitas, efisiensi, dan kemudahan bagi manusia dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani-lahiriahnya. Ilmu dan teknologi modern itu tidak mampu mencipta suatu bangunan filsafat yang utuh dan komprehensif dalam menawarkan program-program yang efektif dan efisien lebih diperlukan oleh manusia dan menjawab segenap kebutuhan jasmani dan ruhaninya. Memang Islam telah memberikan wewenang kepada manusia untuk merancang sendiri alat-alat yang efektif dan efisien untuk memudahkan kehidupan jasmaninya. Sementara Islam mengemban dan bertanggung jawab terhadap perkara-perkara diluar batas-batas kemampuan ilmu dan teknologi untuk memikulnya.
Program-program dan hukum-hukum Islam semakin berkembang dan luas seirama dengan perkembangan ilmu, teknologi, kebutuhan manusia yang melahirkan tema-tema baru yang menuntut penyelesaiannya. Hukum-hukum baru ini akan ditetapkan dan dihasilkan dari sumber-sumber fikih Islam yang lengkap melalui suatu proses ijtihad, dengan demikian, tidak ada lagi keraguan bahwa Islam dan hukum-hukumnya tidak mampu sejalan dengan perkembangan zaman dan menjawab kebutuhan-kebutuhan manusia di masa modern ini.
Jika benar bahwa perkembangan dan kemajuan ilmu dan teknologi menyebabkan manusia tidak lagi memerlukan agama, maka setelah melewati satu atau beberapa abad lahirnya Islam, niscaya manusia telah menegaskan ketidakbutuhannya kepada agama dan meniti jalan kehidupannya hanya dengan capaian-capaian akal-pikirannya. Sejarah kontemporer adalah sebaik-baiknya dalil dan argumen terhadap ketidakbenaran perkara ini. Manusia bukan hanya tidak bisa melepaskan kebutuhannya kepada agama, melainkan pasca zaman kebangkitan anti agama (baca: zaman Renaisans) yang melahirkan banyak pengalaman-pengalaman pahit dari krisis kemanusiaan, pada masa kini, manusia semakin dekat kepada ajaran-ajaran religius dan merasakan kebutuhannya kepada nilai-nilai suci agama yang semakain mendalam.
2.4  Peran Agama Pada Era Moderen
Peran agama di dalam perkembangan masyarakat, antara lain:
1.      agama sebagia motivtor, agama di sini adalah sebagai penyemangat seseorang maupun kelompok dalam mencapai cita-citanya di dalam seluruh aspek kehidupan.
2.      agama sebagai creator dan inovator, mendorong semangat untuk bekerja kreatif dan produktif untuk membangun kehidupan dunia yang lebih baik dan kehidupan akhirat yang lebih baik pula.
3.      agama sebagai integrator, di sini agama sebagai yang mengintegrasikan dan menyerasikan segenap aktivitas manusia, baik sebagai orang-seorang maupun sebagai anggota masyarakat.
4.      agama sebagai sublimator, masksudnya adalah agama sebagai mengadukan dan mengkuduskan segala perbuatan manusia.
5.      Agama sebagai sumber inspirasi budaya bangsa, khususnya Indonesia.
Agama pada era modern memandang dari perspektif Islam, modernitas dalam kehidupan kita sat ini adalah impor dari dunia Barat yang memiliki sistem nilai logika. Perkembangan tersendiri, yang di dalamya mungkin terdapat unsur yang singkronkan saling melengkapi yang besifat universal. Dalam bentuknya yang positif umat Islampun mengakui ”hutang budi’ mereka kepada Barat, terutama dalam mengikis kungkungan tradisionalisme, kemudian menerima tatanan baru yang mendorong untuk melakukan berbagai inovasi guna menjawab tantangan zaman di lingkungan masing-masing. Letak ditemanya : umat Islam kehilangan jati diri dalam melihat tatanan yang serba asing kemudian menempatkan secara proporsional baik sebagai ”kawan” maupun sebagai ”lawan”.
Dua tugas pokok umat Islam yang peling mendesak utnuk diaktualisasikan :
1.      Upaya menganalisasikan ajaran Islam dalam jabat an yang lebih kokret dan dapat diterapkan dalam realitas hidup keseharian. Ilslam harus bisa dipahami oleh segenap lapisan masyarakat.
2.      realitas hidup itu sendiri harusnya menjadi sumber motivasi yang menantang agar untuk semakin memanusia.








BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Dengan melihat solusi Islam pada ketiga pola hubungan manusia tersebut, maka dapat dikatakan bahwa Islam memperhatikan dan membangun dimensi-dimensi duniawi dan ukhrawi manusia, jasmani dan ruhaninya, dan lahir dan batinnya, serta hati dan akalnya. Solusi Islam yang sangat luas ini tidak dapat diharapkan dan diemban oleh ajaran-ajaran yang murni buatan manusia, karena ilmu dan pengetahuan yang dihasilkan oleh manusia itu sendiri hingga sekarang ini belum dapat mengklaim telah mengenal dimensi-dimensi eksistensi manusia secara komprehensif dan terperinci sehingga dapat menjamin, merancang, dan mengontruksi secara lengkap program-program untuk kebahagiaan kehidupan dunia dan akhirat manusia.  Meski ilmu, pengetahuan, dan teknologi modern telah memberikan manfaat bagi manusia, namun manfaat dan fungsi ini hanyalah sebatas memberikan efektifitas, efisiensi, dan kemudahan bagi manusia dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani-lahiriahnya. Ilmu dan teknologi modern itu tidak mampu mencipta suatu bangunan filsafat yang utuh dan komprehensif dalam menawarkan program-program yang efektif dan efisien lebih diperlukan oleh manusia dan menjawab segenap kebutuhan jasmani dan ruhaninya. Memang Islam telah memberikan wewenang kepada manusia untuk merancang sendiri alat-alat yang efektif dan efisien untuk memudahkan kehidupan jasmaninya. Sementara Islam mengemban dan bertanggung jawab terhadap perkara-perkara diluar batas-batas kemampuan ilmu dan teknologi untuk memikulnya.

3.2  Saran
Penulis berharap kepada pembaca setelah  membaca makalah ini dapat mengetahui tentang apa fungsi agama bagikehidupan baik dalam pengertian maupun dasar dan tujuan. Selain daripada itu, apabila terdapat kesalahan kami mohon maaf dan mohon kritik dan sarannya demi kebaikan makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA


http://retnasuria-w.blogspot.com/
Mahdi Hadawi Tehrani, Wilâyat wa Diyânat, hal. 13 – 56, Yayasan Farhangg-e Khoney-e Kherad.
Abdul Hamid, dan Yaya. “Pemikiran Modern Dalam Islam”. 2010. Bandung : Pustaka Setia.
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/mkdu_isd/







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar